Selasa, 10 April 2012
HUKUM NEWTON
Gaya merupakan suatu besaran yang menyebabkan
benda bergerak Sebuah gaya memiliki nilai dan arah, sehingga merupakan vektor yang
mengikuti aturan-aturan penjumlahan vektor.
A.
Hukum newton I
Hukum Newton I berbunyi, Setiap benda tetap berada dalam keadaan diam atau bergerak
dengan laju tetap (konstan) sepanjang garis lurus, kecuali jika diberi gaya
total yang tidak nol.
Sesentola adalah seorang lelaki muda yang
mempunyai nafsu makan yang sangat besar. Oleh karena orangtuanya tidak
mampu lagi menghidupinya, Sesentola pun pergi dari kampungnya. Namun, negeri
yang ditujunya ternyata sedang tertimpa musibah. Penduduk negeri
itu hanya tinggal satu orang, yang lainnya telah mati akibat diserang oleh garuda
raksasa. Apa yang akan dilakukan selanjutnya? Simak kisahnya dalam cerita Sesentola
dan Burung Garuda berikut ini!
* * *
Dahulu, di daerah Sulawesi Tengah, hiduplah
sepasang suami istri. Sudah puluhan tahun mereka menikah namun belum juga
dikaruniai seorang anak. Meskipun demikian, mereka tidak pernah berputus asa.
Setiap malam mereka berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai anak, walau bagaimana
pun keadaannya. Hingga pada suatu ketika, sang istri pun hamil.
“Terima kasih, Tuhan. Engkau telah mengabulkan
doa kami. Jika anak itu telah lahir, hamba berjanji akan merawat dan
membesarkannya dengan penuh kasih sayang,” ucap sang suami.
Beberapa bulan kemudian, sang istri pun
melahirkan seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Sesentola. Sejak
dilahirkan, terlihat ada tanda-tanda keajaiban pada diri anak itu. Ia amat kuat
minum susu. Terkadang, ia menangis karena merasa kurang kenyang. Sang ibu pun
mulai kebingungan melihat keadaan anaknya.
“Pak, anak kita masih lapar padahal air susuku
sudah habis. Apa yang harus kita lakukan?” tanya sang istri bingung.
“Sebaiknya kita beri tambahan makanan saja,”
ujar suaminya.
“Tapi bukankah bisa membahayakan pencernaannya
jika anak kita yang masih bayi ini diberi makanan orang dewasa?” tanya sang
istri.
“Kita harus bagaimana lagi, Bu? Jika tidak
diberi makanan tambahan, ia pasti akan menangis terus,” ujar sang suami.
Suami-istri itu pun memutuskan untuk memberi
nasi bubur kepada anak mereka. Rupanya, sepiring nasi bubur tidak cukup
mengenyangkan Sesentola. Sekali makan, Sesentola yang masih bayi itu bisa
menghabiskan 2-3 piring nasi. Demikian seterusnya, semakin hari ia semakin kuat
makan. Namun, di balik itu, Sesentola memiliki kekuatan luar biasa yang tidak
diketahui oleh orangtuanya.
Beberapa tahun kemudian, Sesentola tumbuh
menjadi remaja. Kebiasaan makan banyak pun semakin meningkat. Sekali makan ia
bisa menghabiskan satu bakul nasi. Hal itulah yang membuat sang bapak mulai
kesal karena merasa sudah tidak mampu lagi memberi makan anaknya.
“Bu, aku sudah tidak kuat lagi dengan keadaan
ini. Anak kita semakin banyak makannya. Lama-lama kita sendiri bisa mati
kelaparan,” keluh sang suami.
Sampai suatu ketika, sang ayah benar-benar
sudah kuat lagi menghadapi keadaan tersebut. Ia pun berniat untuk melenyapkan
nyawa anak kandungnya sendiri. Sang istri pun tidak dapat berbuat apa-apa
dengan keputusan suaminya.
Suatu hari, sang ayah mengajak Sesentola untuk
menjala ikan di sungai yang banyak buayanya. Sesentola pun menuruti ajakan
ayahnya. Setiba di sungai, sang bapak segera melemparkan jalannya ke tengah
sungai. Setelah itu, ia memerintahkan Sesentola untuk mengambil jala tersebut.
“Sesentola, cepat ambil jala itu! Pasti sudah
banyak ikan yang tertangkap di dalamnya!” perintah sang bapak.
“Baik, Pak,” jawab Sesentola.
Begitu Sesentola menyelam ke dasar sungai untuk
mengangkat jala itu, sang bapak cepat-cepat meninggalkannya. Ia mengira anaknya
itu pasti sudah mati dimakan buaya. Sesampai di rumah, ia pun menceritakan hal
itu kepada istrinya.
“Bu, Sesentola pasti sudah mati dimakan buaya.
Kita tidak akan kelaparan lagi,” kata sang suami.
Baru saja sang suami berkata demikian,
tiba-tiba terdengar teriakan dari depan rumah.
“Bapak, aku pulang! Lihatlah yang aku bawa
ini!”
Pasangan suami-istri itu tersentak kaget.
“Pak, bukankah itu suara anak kita, Sesentalo?”
tanya sang istri.
Dengan perasaan cemas, sang suami segera
keluar. Betapa terkejutnya karena ia mendapati Sesentola sedang memanggul
seekor buaya besar.
“Lihat, Pak! Aku berhasil menangkap seekor
buaya besar,” kata Sesentola.
Sang bapak pun terdiam, tidak percaya dengan
apa yang saksikannya. Untung ia cepat tersadar sehingga niat jahatnya tidak
diketahui oleh Sesentola. Karena rencananya gagal, ia segera mencari cara lain
untuk melenyapkan nyawa anaknya. Ia teringat pada pohon beringin besar di tepi
sungai. Maka, pada keesokan harinya ia pun mengajak Sesentola untuk pergi
menebang pohon beringin itu.
“Sesentola, ayo bantu Bapak menebang pohon
beringin yang ada di tepi sungai itu,” ajak sang bapak.
“Baik, Pak,” jawab Sesentola.
Bapak dan anak itu pun berangkat ke tepi
sungai. Sang bapak sengaja mengarahkan rebahnya pohon itu ke tempat Sesentola
berdiri. Begitu pohon beringin itu roboh, tak ayal tubuh Sesentola pun tertimpa
pohon.
“Aduuhhh…!” jerit Sesentola.
Setelah itu, Sesentola tidak lagi bersuara.
Sang bapak pun mengira anaknya telah mati. Maka, cepat-cepatlah ia kembali ke
rumahnya dan menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Namun, tiba-tiba
terdengar suara Sesentola.
“Bapak, aku pulang!” teriak Sesentola di depan
rumah.
Alangkah terkejutnya sang bapak saat melihat
anaknya sedang memikul pohon beringin yang ditebangnya tadi. Ia semakin tidak
percaya melihat kekuatan anaknya itu. Sang istri langsung meneteskan air mata.
Ia merasa kasihan melihat nasib anak semata wayangnya itu atas perlakuan sang
suami terhadapnya.
Sementara itu, Sesentola yang telah menyadari
niat jahat sang bapak mulai kesal. Meski demikian, ia tidak ingin melawan
bapaknya. Ia merasa bahwa lebih baik pergi daripada terus membebani kedua
orangtuanya.
“Jika Bapak dan Ibu sudah tidak mampu lagi
menghidupiku, lebih baik aku pergi saja. Aku akan mencari penghidupan sendiri,”
kata Sesentola.
“Baiklah, Anakku. Bawalah benda pusaka ini,”
ujar sang ibu seraya menyerahkan panah bermata tiga dan cincin pusaka.
“Ingatlah, saat kamu hendak menggunakan panah
ini harus disertai menyebut bagian tubuh musuh yang hendak kamu bidik. Jika
kamu menyebut mata, anak panah itu akan mengenai mata musuhmu. Kalau engkau
sakit, rendamlah cincin ini ke dalam air. Kemudian teteskanlah air itu di
bagian tubuhmu yang sakit, niscaya kamu akan sembuh,” jelas ibu Sesentola.
“Terima kasih, Bu. Jagalah diri kalian
baik-baik,” kata Sesentola.
Usai berpamitan kepada ibu dan bapaknya,
Sesentola pun pergi meninggalkan kampung halamannya. Ia berjalan tanpa tentu
arah hingga akhirnya sampai di sebuah ibukota kerajaan. Namun anehnya, kota itu
seperti tidak berpenghuni.
“Hai, kenapa kota ini sepi sekali? Pergi ke
mana penduduknya?” gumam Sesentola dengan heran.
Setelah Sesentola mengelilingi kota itu,
tampaklah sebuah rumah megah. Ia berpikir bahwa rumah itu pastilah istana raja.
Dengan langkah perlahan-lahan, Sesentola memasuki istana itu. Namun, tak
seorang pun yang terlihat. Hanya ada sebuah gendang rasasa di dalamnya. Karena
penasaran, Sesentola pun berniat memukul gendang itu. Begitu ia hendak
memukulnya, tiba-tiba ada suara wanita yang menegurnya.
“Hai, jangan kamu pukul gendang ini! Aku ada di
dalamnya,” seru suara itu, “Ayo cepat sembunyi!”
Sesentola pun menuruti seruan itu. Begitu masuk
ke dalam gendang itu, ia mendapati seorang gadis cantik.
“Hai, siapa kamu dan kenapa bersembunyi di
sini?” tanya Sesentola heran.
“Sssstt…! Jangan keras-keras, nanti garuda itu
datang menyerang lagi,” ujar perempuan itu.
“Garuda apa maksudmu?” tanya Sesentola bertanya
dengan pelan.
“Namaku Lemontonda. Tinggal akulah
satu-satunya yang masih hidup di negeri ini. Penduduk lainnya telah mati
diserang burung garuda yang sangat ganas,” ungkap Lemontonda.
Mendengar cerita itu, Sesentola pun berniat
untuk membinasakan garuda itu.
“Jangan takut, Lemontonda! Aku akan memberi pelajaran
garuda itu,” ujar Sesentola.
“Jangan! Garuda itu sangat sakti. Lagipula ia
tidak sendiri, dan masih ada Raja Garuda bernama Vandebulava yang lebih sakti,”
kata Lemontonda.
“Tenang saja. Aku akan menghadapi mereka dengan
senjata pusakaku ini,” kata Sesentola sambil menunjukkan senjatanya.
Beberapa saat kemudian, seekor garuda datang
dan terbang berkeliling di atas istana. Garuda itu mengetahui keberadaan
Sesentola dan gadis itu. Dengan gagah berani, Sesentola segera keluar lalu
membidik mata garuda itu dengan panahnya. Begitu terlepas dari busurnya, anak
panah itu melesat dengan cepat dan tepat mengenai mata garuda itu hingga
tembus. Garuda itu pun jatuh dan tewas seketika.
Mengetahui kabar tersebut, Raja Garuda menjadi
murka. Ia segera memerintahkan seekor garuda bernama Vandease untuk menangkap
Sesentola.
“Tangkap dan bawa anak muda itu ke mari! Jika
tidak mau, habisi saja dia!” seru Raja Garuda.
“Baik, Tuan!” jawab Vandease.
Vandease pun menemukan Sesentola dan memintanya
untuk menyerahkan diri, namun pemuda sakti itu tidak mau. Sesentola kemudian
menarik busurnya lalu membidik kening garuda itu. Anak panah pun melesat dan
tepat mengenai kening garuda itu hingga tewas seketika. Melihat hal itu,
Lemontonda berpesan kepada Sesentola.
“Berhati-hatilah, Sesentola! Raja Garuda itu
sebentar lagi datang. Ia sangat sakti,” ujar Lemontonda.
“Baiklah, tolong siapkan segelas air untuk
merendam cincin ini!” pinta Sesentola seraya menyerahkan cincinnya kepada
Lemontonda, “Jika aku pingsan, tolong teteskan air ini ke mataku.”
Tak berapa lama kemudian, Vandebulava pun
datang. Sesentola segera membidik leher garuda itu. Anak panahnya kemudian
melesat menembus leher Raja Garuda. Karena kesaktiannya, sebelum jatuh, Raja
Garuda sempat menyambar Sesentola hingga pingsan.
Melihat Sesentola pingsan, Lemontonda segera
meneteskan air rendaman cincin pusaka ke mata pemuda itu. Beberapa saat
kemudian, Sesentola pun siuman. Dengan tewasnya Raja Garuda, negeri itu kembali
aman. Sesentola pun mengajak Lemontonda untuk menikah. Gadis itu bersedia tapi
dengan satu syarat.
“Aku bersedia menikah asalkan kamu mampu
menghidupkan kembali orangtuaku dan seluruh rakyat negeri ini,” pinta
Lemotonda.
Sesentola pun menyanggupi syarat itu. Konon,
dengan kesaktiannya, Sesentola berhasil menghidupkan kembali seluruh penduduk
negeri itu. Ia pun menikah dengan Lemontonda dan diangkat menjadi raja di
negeri itu. Selanjutnya, Sesentola memboyong orangtuanya ke istana. Mereka pun
hidup berbahagia.
* * *
Demikian cerita Sesentola dan Burung
Garuda dari Sulawesi Tengah. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita
di atas adalah bahwa orang yang pemberani dan suka menolong seperti Sesentola
pada akhirnya akan mendapat kebahagiaan. Pelajaran lainnya adalah bahwa
betapapun usaha seeorang ingin melenyapkan nyawa orang lain, orang itu tidak
akan mati jika Tuhan belum menghendaki. (Samsuni/sas/271/07-11)
Sumber : www.ceritarakyatnusantara.com
Langganan:
Postingan (Atom)
Blog Archive
About Me
- Unknown